Sejak perang dunia berlangsung hingga berakhirnya perang dingin, negara-negara Barat seperti Amerika dan Eropa berlomba-lomba untuk memasukkan ide-ide mereka kepada negara dunia ketiga. Salah satunya dengan menyebarluaskan pemahaman sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme merupakan hasil dari globalisasi yang terjadi beberapa dekade terakhir ini. Masalah yang timbul akibal proses globalisasi khususnya dalam perdagangan dunia semakin hari menjadi semakin mengkhawatirkan. The Body Shop sebagai sebuah perusahaan multinasional besar mencoba untuk mengurangi dampak sistem kapitalisme yang timbul akibat globalisasi dengan cara yang berbeda dari gerakan antiglobalisasi lainnya. Maka muncul pertanyaan, gerakan antiglobalisasi seperti apakah yang akan digunakan The Body Shop untuk menjalankan aksinya? Apakah perusahaan The Body Shop termasuk dalam kelompok rejectsionis? Maka menarik bagi saya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut yang kemudian akan saya tuangkan dalam paper ini.
Globalisasi dan Anti-globalisasi
Tidak ada definisi khusus yang dapat menjelaskan dengan tepat arti globalisasi. Globalisasi dapat berarti sistem kapitalisme, dapat pula Modernisasi, Mcdonalisasi, Westernisasi, hilangnya batas-batas negara, dan masih banyak definisi lain. Masyarakat dunia yang berpikir secara modern menganggap bahwa globalisasi membawa efek positif dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, dan media. Proses perdagangan dapat dijalankan dengan mudah dan cepat antar negara akibat majunya transportasi. Teknologi menjadikan pula dunia lebih terkoneksi. Namun sama seperti uang koin, globalisasi juga mempunyai 2 sisi. Selain efek positif seperti yang disebutkan diatas, globalisasi juga mengakibatkan kerugian pada sebagian besar masyarakat global. Terdapat kaum anti-globalisasi yang menyatakan bahwa system yang berkembang saat ini membawa banyak dampak buruk khususnya bagi masyarakat yang tinggal di negara dunia ketiga. Kemudahan globalisasi hanya dirasakan bagi mereka yang kuat dan memiliki modal serta kepintaran. Bagaimana dengan mereka yang lemah khususnya di negara Afrika dan Asia? Globalisasi dijadikan topeng para negara maju dan perusahaan besar untuk mencapai kepentingannya melalui berbagai cara, dan salah satu agendanya adalah mengeksploitasi negara miskin dan berkembang. Maka Kaum anti-globalisasi hadir untuk melawan kecenderungan globalisasi dan efek yang berbahaya dari reformasi kapitalisme yang tak terkendali. Kaum ini berpendapat bahwa globalisasi (Anti marketing) merupakan proses pemanfaatan ekonomi negara-negara lemah dengan menghubungkan perekonomian dunia, memaksa ketergantungan pada yang pada akhirnya perbudakan melalui proses kapitalisme barat.
Berbicara mengenai sistem kapitalis neoliberalisme, tak lepas pula kita membicarakan WTO sebagai badan yang paling bertanggung jawab akan hal tersebut. Salah satu kebijakan WTO yang dirasa sangat membebankan negara lemah yaitu free trade. Konsep Free Trade (Vincent Didiek WA, 2010) ditandai dengan penghapusan tarif bea masuk, kuota, dan berbagai diskriminasi ekspor/impor dengan tujuan untuk menciptakan kreasi perdagangan. Wujudnya ialah peningkatan ekspor, meningkatnya volume perdagangan, meningkatnya skala ekonomi, dan usaha perusahaan. Kebijakan ini menjadikan negara yang belum kuat dalam pasar sulit untuk menjaga produk lokalnya karena terjadi persaingan yang ketat dimana produk domestik kemungkinan dapat kalah bersaing dan semakin tersingkirkan sehingga berakibat pada berkurangnya pendapatan dan berpengaruh pada perekonomian negara anggota WTO.
Melihat hal tersebut, timbulah kritikan tajam oleh gerakan anti-globalisasi. Mereka terdiri dari berbagai kelompok (Starr and Adam 2003), ada yang tujuan utamanya menentang globalisasi, ada pula yang tidak benar-benar menolak namun hanya menginginkan sesuatu yang berbeda dari sistem globalisasi yang berkembang saat ini. Dari berbagai kalangan (Gunaryadi 2001), mereka kemudian berkumpul dan menarik perhatian publik untuk bergabung. Teknologi internet juga dimanfaatkan aktivis tersebut untuk menarik simpati dan pendukung. Barisan demonstran itu terdiri dari para pencinta lingkungan, pendukung hak-hak binatang, anggota serikat kerja, aktivis HAM, kaum anarkis, kelompok wanita dan lainnya.
THE BODY SHOP
Perusahaan The Body Shop merupakan salah satu contoh bentuk antiglobalisasi yang diolah sedemikian rupa hingga menjadi sebuah perusahaan multinasional besar. Sedikit berbeda dengan perusahaan dagang pada umumnya, The Body Shop menggunakan produk-produknya untuk menyebarkan ide-ide Fair Trade serta nilai-nilai globalisasi yang berbasis kemanusiaan. Perusahaan ini dibangun oleh (The Body Shop 2009) seorang aktivis HAM, Anita Roddick yang memasukkan nilai-nilai akan kecantikan yang natural, lingkungan, serta menghargai integritas masyarakat sosial dengan memberi keadilan bagi para sumber daya manusianya pada bisnisnya tersebut. Perusahaan The Body Shop, menerapkan sistem fair trade yang (WFTO 2009) adalah sebuah sistem perdagangan, berdasarkan asas dialog, transparansi dan rasa hormat, dalam perdagangan internasional. Fair trade (memberikan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dengan menawarkan kondisi perdagangan lebih baik, dan menjamin hak-hak produsen dan pekerja yang terpinggirkan terutama di selatan. Hasil perusahaan The Body Shop, dibagi dengan adil kepada para pekerja, petani, juga digunakan untuk melakukan berbagai kampanye-kampanye lain guna memperbaiki akibat tindakan globalisasi yang banyak merugikan lingkungan, makhluk hidup, dan masyarakat global.
Menjawab pertanyaan, "Apakah The Body Shop termasuk salah satu kelompok Rejectsionist Globalisasi?", jawaban saya adalah tidak. Jika dikaitkan dengan macam kelompok globalisasi, The Body Shop cenderung dalam kelompok reformis, yaitu (Helmut, Marlies, & Mary) mereka yang menerima penyebaran kapitalisme global dan saling ketergantungan global yang berpotensi menguntungkan bagi kemanusiaan, tetapi tetap harus dilaksanakan dalam proses yang beradab dan menghargai nilai-nilai kehidupan. Sedangkan rejectsionis lebih menekankan pada tindakan ingin membalikkan globalisasi kembali ke dunia negara-bangsa.
Kaum reformis merupakan kumpulan orang atau individu yang mempromosikan reformasi kelembagaan ekonomi internasional dan menginginkan keadilan sosial yang lebih besar dan ketat, adil dan partisipatif menentukan arah teknologi baru, dan mengembangkan aplikasi aturan hukum global yang baru dan kuat. Reformis adalah kategori yang penting, karena didalamnya terdapat orang-orang yang ingin membuat perubahan tertentu dan ditujukan untuk perubahan yang lebih besar dan transformatif dan The Body Shop ada didalamnya. Melalui perusahaan yang tersebar diseluruh dunia, mereka mencoba untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari perusahaan komersial lainnya. Tercantum dalam “THE BODY SHOP CODE OF CONDUCT FOR SUPPLIERS” (The Body Shop 2005), mereka mengadopsi nilai-nilai berbasis etika kemanusiaan secara garis besar seperti, memberikan perlindungan dan keadilan bagi para pekerja, menentang uji coba terhadap binatang, memberikan upah dan jam kerja secara wajar, berdagang secara adil dengan komitmen untuk memberikan lebih dari 25,000 orang di seluruh dunia sebuah penghasilan untuk membangun masa depan mereka, dan tidak mempekerjakan anak-anak dibawah umur.
Kesimpulan
The Body Shop bukan kelompok rejectsionis yang sangat menentang globalisasi dan sistem kapitalisme global secara mentah-mentah karena dianggap dapat merusak nilai-nilai keaslian masing-masing bangsa di dunia. Rejectionis (Helmut, Marlies & Mary) cenderung ingin kembali ke versi ideal dari masa lalu bukan berubah menjadi sesuatu yang baru. The Body Shop tetap mengambil beberapa keuntungan dari globalisasi yaitu dengan menggunakan media internet sebagai wadah untuk memberikan informasi akan nilai-nilai kemanusiaan, sarana kampanye bagi masyarakat, dan iklan
Jadi, The Body Shop lebih tepat jika digolongkan dalam kelompok reformist. Bisnis kecantikan ini dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk kampanye akan ketidakadilan globalisasi yang banyak dialami oleh negara berkembang dan miskin yang kaya akan sumber daya alam, namun miskin modal dan sumber daya manusia. Mereka berusaha memperbaiki struktur globalisasi dengan produk-produk yang mereka tawarkan kepada pasar melalui cara-cara yang lebih adil baik bagi bumi, hewan, dan kepada masyarakat.
Daftar referensi
Anti Marketing, Introduction to Anti-Globalization - Definition and Resources, dilihat pada 3 Mei 2010.
Gunaryadi 2001, Anti-globalisasi atau protes terhadap ketidakadilan?, 26 Agustus 2001, Indocase, dilihat pada 3 Mei 2010
Helmut K. Anheier, Marlies Glasius and Mary Kaldor 2001, ‘Introducing Global Civil Society’, in Helmut K. Anheier, Marlies Glasius and Mary Kaldor (eds), Global Civil Society, Oxford: Oxford University Press, pp. 42.
The Body Shop 2005, The Body Shop Code of Conduct for Suppliers, The Body Shop, dilihat pada 1 Mei 2010.
The Body Shop 2009, Nilai-nilai Kami, The Body Shop, dilihat pada 1 Mei 2010.
Vincent Didiek WA 2010 , Free Trade vs Fair Trade dalam Kerangka CAFTA , Media Indonesia, 26 Maret, dilihat pada 5 Mei 2010.
World Fair Trade Organization 2009, What is Fair Trade, World Fair Trade Organization, dilihat pada 5 Mei 2010.
Starr, A and Adam, J 2003, ‘Anti-globalization: The Global Fight for Local Autonomy’, New Political Science, Volume 25, Number 1, pp. 21.
sonjaaa...maaci yaaa....
ReplyDeleteTerima kasih infonya gan.
ReplyDeleteLumayan buat nambah wawasan.
Parfum Ori
Body Shop Parfum.
----------