Wednesday, September 15, 2010

Perekonomian dan Militer Sebagai Sarana Untuk Mencapai Tujuan China

Pasca berakhirnya perang dingin konsep Sistem Politik Internasional dunia mulai berkembang. Dari Unipolar, bipolar, dan multipolar, saat ini muncul pemahaman baru yaitu sistem uni-multipolar, dimana peranan Amerika Serikat sebagai Negara superpower tetap menjadi kekuatan utama dan memegang peranan penting dalam keputusan-keputusan global. Namun tidak dapat dipungkiri, terdapat aktor state dan non-state lain yang disebut major atau middle power seperti China, Rusia, maupun lembaga Uni Eropa, dan perusahaan – perusahaan multinasional dalam sistem politik internasional yang tidak dapat dikesampingkan. Sebab mereka juga mempunyai peranan penting dalam setiap pengambilan kebijakan internasional yang berpengaruh terhadap masyarakat global. Perkembangan inilah yang kemudian melahirkan adanya keterkaitan antar aktor – aktor superpower, major power bahkan small power sekalipun, di dalam isu – isu yang beragam, seperti politik, ekonomi, sosial, pertahanan, lingkungan dan lain – lain.

Aktor – aktor middle power, negara khususnya, dalam iklim global saat ini saling bersaing untuk meningkatkan kapabilitas serta opportunity yang dimiliki. Dalam kasus ini, China sebagai negara yang memegang peranan penting di kawasan Asia dan juga menguasai sebagian besar perdagangan dunia dapat dijadikan contoh dalam besarnya pengaruh yang dihasilkan bagi kebijakan internasional. Dan inilah yang dapat kami analisis tentang faktor – faktor yang mempengaruhi posisi kekuatan China.

What interest and specific goal or objectives?


Interest

Economic vitality and prosperity merupakan Interest yang banyak dicari oleh Negara-negara di dunia pada umumnya. Mereka berusaha meningkatkan perekonomian yang mantap dimana hal tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakatnya. Dalam isu ini, China sebagai contoh, mempunyai perekonomian yang berkembang sangat cepat dan telah menjadi salah satu Negara yang mempunyai kekuatan besar. Walau China bukan negara superpower, tapi mempunyai kekuatan yang besar pengaruhnya baik bagi dirinya, Amerika Serikat, maupun aktor-aktor internasional lain. China juga mempunyai keinginan untuk memperbesar kekuatan militernya, karena militer adalah salah satu point penting yang dapat digunakan China untuk menjadikan dirinya sebagai negara yang punya pengaruh dalam perannya sebagai major power dan sebagai bentuk pertahanan negaranya bila ada gangguan yang datang dari luar. Sebagai bukti bahwa mereka serius menjadikan militer sebagai bagian dari kekuatan mereka, China menaikan anggaran belanja militernya dari tahun ke tahun. Untuk membeli peralatan militernya sebagai pertahanan negaranya.

Menurut definisi dalam International Relations and world Politics (Paul R. Viott dan Mark V. Kauppi), Objectives dapat diartikan sebagai interest atau kepentingan state dan non-state aktor dalam jangka Pendek atau lebih mengarah urgent atau jangka pendek, Jangka Menengah, dan Jangka Panjang. Goal atau objectives yang ingin dicapai oleh China dalam jangka pendek adalah memperbaiki stabilitas perekonomian yang sempat menurun akibat krisis global dan memperkuat pasukan militer, jangka menengah adalah lebih banyak bekerja sama dengan negara – negara lain atau organisasi – organisasi internasional dalam bidang ekonomi khususnya, dan jangka panjangnya adalah menjaga stabilitas dan membuat atmosfer perekonomian menjadi kondusif juga menjadikan pasukan militer mereka menjadi yang paling kuat dengan membekali mereka dengan peralatan yang canggih.

What opportunity?

Opportunity sendiri memiliki arti yaitu kondisi atau situasi yang mendukung suatu negara untuk mencapainya tujuan, di sini kita lihat hal - hal yang dapat mendukung China menjadi negara major power. Karena dalam dunia globalisasi sekarang ini, pasar semakin bebas, ini menjadi peluang China untuk memproduksi segala macam barang dan menguasai pasar dunia. China memproduksi mulai dari pakaian sampai barang - barang elektronik. Karena biaya produksi barang – barang di China murah, maka banyak negara yang memproduksi barang – barang di sana, dan itu dijadikan suatu peluang untuk menambah defisa bagi China. Dalam bidang ekspornya, China juga mengalami kenaikan walau naik secara perlahan.

Dari masalah dana pun China tidak punya masalah, karena China memiliki sumber dana yang cukup banyak. Dari bidang industri dan pajak yang mengalami peningkatan dalam sembilan bulan ini. Jika dibandingkan dengan negara superpower seperti Amerika Serikat, jumlah ekspor yang dihasilkan oleh China masih lebih baik, walaupun mengalami kenaikannya secara bertahap. Dan dengan bergabungnya China diorganisasi – organisasi internasional juga telah membuka peluang lebih luas untuk saling bekerja sama dengan negara lain disegala bidang, seperti di bidang ekonomi khususnya, politik, security, sosial, dan budaya.

Kapabilitas dalam hal teknologi, China menjadi salah satu Negara yang teknologinya sudah maju dan sumber daya manusia yang cukup besar. Karena China adalah Negara nomor satu di dunia yang memiliki penduduk terbanyak, maka itu membuat posisinya sebagai major power dinilai semakin kuat. Karena tidak semua Negara punya teknologi yang maju dan memiliki banyak sumber daya manusia yang berkualitas seperti yang dimiliki oleh China. Buktinya dapat kita lihat dalam diagram berikut,

pada tahun 2000 populasi China sekitar 1.261.832.482 jiwa dan delapan tahun berikutnya yaitu tahun 2009 bertambah menjadi 1.338.612.968 jiwa. Itu membuktikan bahwa China memang mempunyai potensi sumber daya manusia yang sangat baik. Walaupun krisis global sempat mengancam dan membuat pengangguran bertambah, tetapi pemerintah berusaha untuk mengatasi hal itu. Dan ternyata pengengguran yang ada di China berhasil dikurangi.dari tahun ke tahun. Beda dengan Amerika Serikat, sebagai superpower, yang prosentase penganggurannya naik dalam beberapa tahun. Itu di sebabkan karena Amerika Serikat tidak bisa mengambil cara yang tepat untuk mengatasi masalah ini seperti China dan itu membuktikan bahwa China dapat bertindak lebih baik dari Amerika Serikat. Dengan teknologi yang canggih itu pula, China mempunyai armada militer yang kuat sehingga ancaman keamanan dari luar dapat diatasi. Dari segi letak geografisnya, China berbatasan dengan banyak Negara. Itu memungkinkan China menjalin kerja sama dikawasan regional maupun Internasional. China memiliki luas wilayah yang besar dan juga memiliki hasil pertanian yang cukup banyak, seperti padi, gandum dan jagung.

Dalam konteks uni-multipolar dan Sistem Politik Internasional, opportunities yang dimiliki aktor middle power dijadikan kesempatan untuk mencapai kepentingannya. Seperti halnya dalam contoh ini, Segala hal yang China miliki baik bidang ekonomi, sumber dana, jumlah populasi, SDA, letak geografi, kesiapan armada militer, baiknya hubungan diplomasi, dan faktor-faktor mendukung lainnya dipakai sebagai sarana melancarkan aksinya untuk memperoleh kepentingan yang dicari.

What threats?

Dalam menjalankan misinya terdapat hal – hal yang dapat menjadi ancaman bagi China dalam eksistensinya dengan interaksi antar aktor internasional. Adanya pasar bebas yang membuka negara middle power lain serta small power seperti Jepang, Korea, Thailand, dan Indonesia, sebagai produsen, ikut bersaing menjual barang – barang hasil produksi. Itu akan mengancam keberadaan China sebagai pengekspor terbesar. Pangsa pasar akan mulai beralih mengimpor barang dengan kualitas lebih baik dengan harga serupa. Seperti yang isu belakang yang diberitakan media, mengenai kasus susu China serta mainan anak yang mengandung bahan melamin berbahaya bagi kesehatan. Serta kualitas barang China yang tidak tahan lama dibanding dengan kualitas barang yang dihasilkan Negara-negara Eropa maupun Jepang. Terjadinya krisis global di Amerika Serikat, juga menjadi ancaman serius bagi perekonomian China. Sebab China melakukan banyak hubungan dagang dengan Amerika. Hal-hal semacam ini kemudian dapat menjadi ancaman serius bagi perkembangan perdagangan Negara tersebut.

Selain ancaman dalam isu hubungan perdagangan, China dalam kapabilitasnya yang bukan sebagai negara demokrasi, itu juga bisa dianggap sebagai sebuah ancaman. Karena pada dasarnya negara demokrasi adalah negara yang memberi kebebasan pada masyarakatnya untuk berpendapat, mengkritisi kebijakanm dan ikut serta dalam setiap perubahan yang dilakukan pemerintah. Tapi China bukanlah negara yang menganut paham demokrasi, dia menganut paham komunis, yang segala sesuatunya diatur dan dijalani oleh pemerintahnya saja, masyarakat tidak punya kewajiban untuk ikut andil. Terdapat pula konflik domestic dalam negaranya yang belum dapat teratasi. Adanya kasus pelanggaran HAM berat dan diskriminasi terhadap masyarakat Tibet, dan etnis Uighur yang mendapat soroton tajam dari dunia internasional. Konflik-konflik domestik ini belum dapat diatasi secara baik oleh pemerintah China sehingga menjadi sebuah ancaman internal dalam negaranya yang berpengaruh terhadap kepercayaan dunia luar dengan China sebagai negara middle-power.

Maka sebuah pertanyaan akan muncul, apakah China dapat mempertahankan posisinya sebagai negara middle power atau akan berganti posisi menjadi superpower? Namun tak menutup kemungkinan dengan ancaman yang ada akan berubah China menjadi small power.

What action?

Dalam melancarkan misi untuk memenuhi semua kepentingan nasional, China melakukan berbagai upaya dengan memaksimalkan opportunity yang dimiliki. Dalam bidang ekonomi, pertumbuhan yang pesat membuat China menjadi pasar yang konduktif bagi investor dan sebagai lahan perdagangan yang luas dengan jumlah penduduknya yang besar dan China menjadi salah satu pasar terbesar bagi produk impor Amerika. Pusat Statistik China akhir April lalu merilis data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama 2007 yang sudah mencapai 11,1 persen. Angka itu bahkan jauh di atas periode yang sama tahun 2006, yaitu sebesar 10,4 persen. Tidak satu negara pun di dalam kawasan asia mampu menyamai rekor pertumbuhan itu. Pertumbuhan China yang begitu pesat nyaris tidak terpengaruh oleh perlambatan ekonomi global. Pintu pasar bebas yang dibuka oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) semakin memperdalam integrasi regional maupun global bagi China. Dan pada tahun 2006, nilai investasi asing (foreign direct investment) di China sudah mencapai 60 miliar dollar AS. Digambarkan posisi China yang sangat strategis dalam menjaring produksi global sebagai pabrik dunia. Dengan upah buruh yang rendah, seluruh rangkaian produksi barang-barang massal akan menjadi sangat murah jika dilakukan di China.

Seiring dengan perkembangan ekonomi, China turut serta meningkatkan kebijakannya dalam pertahanan dan keamanan militer. Dalam bidang militer, China meningkatkan budget 2009 untuk anggaran pertahanannya. Hal ini disebabkan akan motif pengejaran kepentingan nasional China untuk meningkatkan kekuatan pertahanan militer. Terlihat dari data yang kami peroleh China mengumumkan 14,9 persen kenaikan biaya anggaran pertahanan untuk tahun 2009, jumlah keseluruhan menjadi 703 milyar dolar AS, menurut sebuah badan resmi. Dikatakan oleh Jacqueline Newmyer, presiden dan CEO dari Long Term Strategy Group bahwa anggaran belanja pertahanan China telah berlipat ganda sejak tahun 2000 atau bahkan sejak tahun 2005. China telah mengembangkan strategi modernisasi kekuatan nuklir, dan membangun ladang peluncur rudal-rudal balistik antar benua berbahan bakar padat. Sebuah kapal selam model terbaru yang memiliki kemampuan meluncurkan rudal-rudal balistik dimasa mendatang.

Tak hanya hal-hal yang telah disebutkan diatas, China turut melakukan banyak hubungan-hubungan dagang serta kegiatan militer dengan berbagai negara maupun organisasi internasional. Seperti keikutsertaannya dalam G20, WTO, dan hubungan kerjasama dengan negara-negara di dunia. Perusahaan multinasional China juga banyak didirikan di berbagai negara. Namun kegiatan yang dilakukan oleh China bukan semata-mata tindakan individu negaranya saja, melainkan terjalin dari interaksi dengan berbagai aktor internasional lain. Pemerintah China juga memberikan dana stimulus saat krisis global sedang melanda negaranya kepada perusahaan – perusahaan di sana yang membutuhkan, ini salah satu cara pemerintah China untuk memperbaiki perekonomian negaranya dan mempertahankan perusahaan – perusahaan yang sudah banyak memberikan keuntungan bagi negaranya. Setelah diketahui apa saja yang dilakukan China guna meningkatkan pengaruh ekonomi dan militernya, dapat dikatakan bahwa China sebagai major power saat ini menjadi ancaman serius untuk menggeser kekuatan superpower yang disandang oleh Amerika Serikat, juga Negara-negara lain yang sama posisinya dalam peranan major power sistem uni-multipolar. Ambisi China untuk menguasai perekonomian dunia dan diikuti dengan kemajuan pertahanan militernya, itu dijadikan China sebagai alasan agar ia dapat meraih segala sesuatu yang menjadi tujuan utamanya. Dan bukan tidak mungkin bila China ingin menggantikan posisi Amerika Serikat sebagai negara superpower, ia akan melakukan segala upaya agar dapat menjadi negara yang punya kekuatan yang tidak tertandingi oleh negara manapun.

Kesimpulan

Sesuai dengan kepentingan politik nasional yang dijalani, dengan menggabungkan semua kapabilitas serta Opportunity yang dimiliki China khususnya, maupun negara lain sebagai middle power tidak akan mencapai objektifitas atau kepentingan yang diinginkan jika tidak dijalankan dengan baik. Dalam sistem uni-multipolar selain besarnya pengaruh negara superpower yaitu Amerika Serikat, peranan aktor state dan non-state middle power juga mempunyai pengaruh yang sama besarnya dengan superpower, bahkan dalam hal tertentu melebihi kekuatan Amerika Serikat. Pertumbuhan perekonomian yang pesat serta menguasai pangsa pasar dunia yang dicapai China, dapat menjadi ancaman serius bagi Amerika Serikat. Namun, bila semua kapabilitas dan opportunity yang dimiliki oleh suatu negara tidak digunakan dengan baik, maka kapabilitas dan opportunity yang dimiliki itu tidak dapat digunakan untuk mencapai kepentingan yang ingin dicapai.

Serta perlu diingat bahwa, pengaruh China sebagai major power pada jaman globalisasi saat ini juga dicapai dengan keikutsertaannya dalam berbagai kelompok organisasi dunia. Kemajuan dalam bidang perekonomian dan militer juga diperoleh dari hasil campur tangan aktor-aktor internasional lain yang memiliki peran penting, seperti perusahaan – perusahaan multinasional yang ada di China maupun di luar China. Dan ambisi atau impian yang dimiliki oleh suatu negara dapat dijadikan sebagai penyemangat untuk mencapai tujuan itu sendiri. Tidak hanya pemerintah saja yang berkewajiban untuk melakukan berbagai macam cara untuk mencapai tujuan, semua elemen negara termasuk masyarakat negara itu sendiri berhak dan mempunyai kewajiban untuk itu. Karena tujuan itu adalah tujuan bersama yang ingin dicapai oleh China sebagai sebuah negara yang utuh.


Referensi :
http://www.china.org.cn/business/2009-11/15/content_18888120.htm
http://www.china.org.cn/business/2009-11/04/content_18824923.htm
Perkembangan pesat ekonomi dan politik China dan ancaman terhadap Amerika « Aman wijaya’s blog.htm
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/10/ekonomi/3523077




The Body Shop : perusahaan bisnis berbasis nilai kemanusiaan

Sejak perang dunia berlangsung hingga berakhirnya perang dingin, negara-negara Barat seperti Amerika dan Eropa berlomba-lomba untuk memasukkan ide-ide mereka kepada negara dunia ketiga. Salah satunya dengan menyebarluaskan pemahaman sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme merupakan hasil dari globalisasi yang terjadi beberapa dekade terakhir ini. Masalah yang timbul akibal proses globalisasi khususnya dalam perdagangan dunia semakin hari menjadi semakin mengkhawatirkan. The Body Shop sebagai sebuah perusahaan multinasional besar mencoba untuk mengurangi dampak sistem kapitalisme yang timbul akibat globalisasi dengan cara yang berbeda dari gerakan antiglobalisasi lainnya. Maka muncul pertanyaan, gerakan antiglobalisasi seperti apakah yang akan digunakan The Body Shop untuk menjalankan aksinya? Apakah perusahaan The Body Shop termasuk dalam kelompok rejectsionis? Maka menarik bagi saya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut yang kemudian akan saya tuangkan dalam paper ini.

Globalisasi dan Anti-globalisasi
Tidak ada definisi khusus yang dapat menjelaskan dengan tepat arti globalisasi. Globalisasi dapat berarti sistem kapitalisme, dapat pula Modernisasi, Mcdonalisasi, Westernisasi, hilangnya batas-batas negara, dan masih banyak definisi lain. Masyarakat dunia yang berpikir secara modern menganggap bahwa globalisasi membawa efek positif dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, dan media. Proses perdagangan dapat dijalankan dengan mudah dan cepat antar negara akibat majunya transportasi. Teknologi menjadikan pula dunia lebih terkoneksi. Namun sama seperti uang koin, globalisasi juga mempunyai 2 sisi. Selain efek positif seperti yang disebutkan diatas, globalisasi juga mengakibatkan kerugian pada sebagian besar masyarakat global. Terdapat kaum anti-globalisasi yang menyatakan bahwa system yang berkembang saat ini membawa banyak dampak buruk khususnya bagi masyarakat yang tinggal di negara dunia ketiga. Kemudahan globalisasi hanya dirasakan bagi mereka yang kuat dan memiliki modal serta kepintaran. Bagaimana dengan mereka yang lemah khususnya di negara Afrika dan Asia? Globalisasi dijadikan topeng para negara maju dan perusahaan besar untuk mencapai kepentingannya melalui berbagai cara, dan salah satu agendanya adalah mengeksploitasi negara miskin dan berkembang. Maka Kaum anti-globalisasi hadir untuk melawan kecenderungan globalisasi dan efek yang berbahaya dari reformasi kapitalisme yang tak terkendali. Kaum ini berpendapat bahwa globalisasi (Anti marketing) merupakan proses pemanfaatan ekonomi negara-negara lemah dengan menghubungkan perekonomian dunia, memaksa ketergantungan pada yang pada akhirnya perbudakan melalui proses kapitalisme barat.
Berbicara mengenai sistem kapitalis neoliberalisme, tak lepas pula kita membicarakan WTO sebagai badan yang paling bertanggung jawab akan hal tersebut. Salah satu kebijakan WTO yang dirasa sangat membebankan negara lemah yaitu free trade. Konsep Free Trade (Vincent Didiek WA, 2010) ditandai dengan penghapusan tarif bea masuk, kuota, dan berbagai diskriminasi ekspor/impor dengan tujuan untuk menciptakan kreasi perdagangan. Wujudnya ialah peningkatan ekspor, meningkatnya volume perdagangan, meningkatnya skala ekonomi, dan usaha perusahaan. Kebijakan ini menjadikan negara yang belum kuat dalam pasar sulit untuk menjaga produk lokalnya karena terjadi persaingan yang ketat dimana produk domestik kemungkinan dapat kalah bersaing dan semakin tersingkirkan sehingga berakibat pada berkurangnya pendapatan dan berpengaruh pada perekonomian negara anggota WTO.
Melihat hal tersebut, timbulah kritikan tajam oleh gerakan anti-globalisasi. Mereka terdiri dari berbagai kelompok (Starr and Adam 2003), ada yang tujuan utamanya menentang globalisasi, ada pula yang tidak benar-benar menolak namun hanya menginginkan sesuatu yang berbeda dari sistem globalisasi yang berkembang saat ini. Dari berbagai kalangan (Gunaryadi 2001), mereka kemudian berkumpul dan menarik perhatian publik untuk bergabung. Teknologi internet juga dimanfaatkan aktivis tersebut untuk menarik simpati dan pendukung. Barisan demonstran itu terdiri dari para pencinta lingkungan, pendukung hak-hak binatang, anggota serikat kerja, aktivis HAM, kaum anarkis, kelompok wanita dan lainnya.

THE BODY SHOP
Perusahaan The Body Shop merupakan salah satu contoh bentuk antiglobalisasi yang diolah sedemikian rupa hingga menjadi sebuah perusahaan multinasional besar. Sedikit berbeda dengan perusahaan dagang pada umumnya, The Body Shop menggunakan produk-produknya untuk menyebarkan ide-ide Fair Trade serta nilai-nilai globalisasi yang berbasis kemanusiaan. Perusahaan ini dibangun oleh (The Body Shop 2009) seorang aktivis HAM, Anita Roddick yang memasukkan nilai-nilai akan kecantikan yang natural, lingkungan, serta menghargai integritas masyarakat sosial dengan memberi keadilan bagi para sumber daya manusianya pada bisnisnya tersebut. Perusahaan The Body Shop, menerapkan sistem fair trade yang (WFTO 2009) adalah sebuah sistem perdagangan, berdasarkan asas dialog, transparansi dan rasa hormat, dalam perdagangan internasional. Fair trade (memberikan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dengan menawarkan kondisi perdagangan lebih baik, dan menjamin hak-hak produsen dan pekerja yang terpinggirkan terutama di selatan. Hasil perusahaan The Body Shop, dibagi dengan adil kepada para pekerja, petani, juga digunakan untuk melakukan berbagai kampanye-kampanye lain guna memperbaiki akibat tindakan globalisasi yang banyak merugikan lingkungan, makhluk hidup, dan masyarakat global.
Menjawab pertanyaan, "Apakah The Body Shop termasuk salah satu kelompok Rejectsionist Globalisasi?", jawaban saya adalah tidak. Jika dikaitkan dengan macam kelompok globalisasi, The Body Shop cenderung dalam kelompok reformis, yaitu (Helmut, Marlies, & Mary) mereka yang menerima penyebaran kapitalisme global dan saling ketergantungan global yang berpotensi menguntungkan bagi kemanusiaan, tetapi tetap harus dilaksanakan dalam proses yang beradab dan menghargai nilai-nilai kehidupan. Sedangkan rejectsionis lebih menekankan pada tindakan ingin membalikkan globalisasi kembali ke dunia negara-bangsa.
Kaum reformis merupakan kumpulan orang atau individu yang mempromosikan reformasi kelembagaan ekonomi internasional dan menginginkan keadilan sosial yang lebih besar dan ketat, adil dan partisipatif menentukan arah teknologi baru, dan mengembangkan aplikasi aturan hukum global yang baru dan kuat. Reformis adalah kategori yang penting, karena didalamnya terdapat orang-orang yang ingin membuat perubahan tertentu dan ditujukan untuk perubahan yang lebih besar dan transformatif dan The Body Shop ada didalamnya. Melalui perusahaan yang tersebar diseluruh dunia, mereka mencoba untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari perusahaan komersial lainnya. Tercantum dalam “THE BODY SHOP CODE OF CONDUCT FOR SUPPLIERS” (The Body Shop 2005), mereka mengadopsi nilai-nilai berbasis etika kemanusiaan secara garis besar seperti, memberikan perlindungan dan keadilan bagi para pekerja, menentang uji coba terhadap binatang, memberikan upah dan jam kerja secara wajar, berdagang secara adil dengan komitmen untuk memberikan lebih dari 25,000 orang di seluruh dunia sebuah penghasilan untuk membangun masa depan mereka, dan tidak mempekerjakan anak-anak dibawah umur.

Kesimpulan
The Body Shop bukan kelompok rejectsionis yang sangat menentang globalisasi dan sistem kapitalisme global secara mentah-mentah karena dianggap dapat merusak nilai-nilai keaslian masing-masing bangsa di dunia. Rejectionis (Helmut, Marlies & Mary) cenderung ingin kembali ke versi ideal dari masa lalu bukan berubah menjadi sesuatu yang baru. The Body Shop tetap mengambil beberapa keuntungan dari globalisasi yaitu dengan menggunakan media internet sebagai wadah untuk memberikan informasi akan nilai-nilai kemanusiaan, sarana kampanye bagi masyarakat, dan iklan
Jadi, The Body Shop lebih tepat jika digolongkan dalam kelompok reformist. Bisnis kecantikan ini dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk kampanye akan ketidakadilan globalisasi yang banyak dialami oleh negara berkembang dan miskin yang kaya akan sumber daya alam, namun miskin modal dan sumber daya manusia. Mereka berusaha memperbaiki struktur globalisasi dengan produk-produk yang mereka tawarkan kepada pasar melalui cara-cara yang lebih adil baik bagi bumi, hewan, dan kepada masyarakat.

Daftar referensi
Anti Marketing, Introduction to Anti-Globalization - Definition and Resources, dilihat pada 3 Mei 2010.

Gunaryadi 2001, Anti-globalisasi atau protes terhadap ketidakadilan?, 26 Agustus 2001, Indocase, dilihat pada 3 Mei 2010

Helmut K. Anheier, Marlies Glasius and Mary Kaldor 2001, ‘Introducing Global Civil Society’, in Helmut K. Anheier, Marlies Glasius and Mary Kaldor (eds), Global Civil Society, Oxford: Oxford University Press, pp. 42.

The Body Shop 2005, The Body Shop Code of Conduct for Suppliers, The Body Shop, dilihat pada 1 Mei 2010.

The Body Shop 2009, Nilai-nilai Kami, The Body Shop, dilihat pada 1 Mei 2010.

Vincent Didiek WA 2010 , Free Trade vs Fair Trade dalam Kerangka CAFTA , Media Indonesia, 26 Maret, dilihat pada 5 Mei 2010.

World Fair Trade Organization 2009, What is Fair Trade, World Fair Trade Organization, dilihat pada 5 Mei 2010.

Starr, A and Adam, J 2003, ‘Anti-globalization: The Global Fight for Local Autonomy’, New Political Science, Volume 25, Number 1, pp. 21.

Lebaran

Hello hello. Baru sempet nyentuh laptop dan berinternet nih gue.. setelah yah semingguanlah libur lebaran. Anyway, minal aidin yah buat yang ngerayain. Untuk gue sendiri sih hmm gimana yah jelasinnya, dibilang lebaran ngga secara gue katolik, tapi klo ga lebaran juga ngga soalnya semua sodara-sodara gue pada lebaran dan udah jadi kebiasaan dari kecil kalo gue ikut ngerayain juga. Bedanya cuman gue ga puasa sama sholat aja, tapi klo untuk beli baju lebaran lah, dapet THR lah, bikin kue lah, mudik, silahturahmi, dan tetek bengeknya nah itu gue ikutin pasti. Ntar pas natalan nah gue ngerayain juga. haha, ribet yeee..

Lebaran kali ini lebih berwarna daripada tahun kemarin menurut gue. Meskipun konvoi takbiran dijakarta dilarang karena bakal ngemacetin lalu lintas, tapi tetep aja rame. Yang main petasan sama kembang api banyak soalnya, jadi heboh-heboh juga. Katanya yang pulkam alias pulang kampung seabrek, tapi yang dijakarta juga ajegile. Mall-mall tetep rame emak2 sama anak kecil pada beli baju+makanan, tempat wisata kayak taman mini (berhubung gue libur ini kesana jadi tau) yaampun padetnya bukan main. Seperti tradisi tahun ketahun lebaran, ada yang namanya MUDIK. Kalo orang2 mungkin pulang kampung, ajaibnya kalo gue pulang kota. haha. Secara rumah orang tua gue di jakarta tapi gue iseng tinggal di bandung. Ga iseng juga sih, lebih tepatnya kuliah ngekos merantau. :D Well, yang gue liat di berita2 orang pada heboh dan niat luar biasa bahkan untuk ngorbanin nyawanya sendiri demi pulkam. Aneh. Iyasih gue tau hal-hal kayak gini cuman 1 tahun sekali untuk manfaatin waktu demi keluarga. Tapi kok yah segitu banget caranya. Ada yang rela nginep 2hari di stasiun kereta api biar ga keabisan tiket, ada lagi yang nekad masuk jendela gerbong kereta padahal tuh kereta lagi jalan pelan2 mau berangkat saking kepepet ga kedapetan tiket, trus naik sekoci kapal gara-gara ga dapet tempat di dek kapalnya juga. Gila! Kalo tali pengait sekocinya putus, apakabar dunia itu? Bakal jatoh kebawah (iyalah jatoh kebawah,ada2 aja deh gue) pasti. Belom lagi yang kena tipu, dibius, dihipnotis, yang kecelakaan. Hadeh! Hebatnya lagi pemerintah kok yah udah tau tiap tahun bakal ada2 aja kejadian ga enak pas mudik, cuman masih aja kurang pedulinya. (sok mengkritik : mode on)








 by : deviantart


 
Beda dari mudik, ada lagi yang namanya bagi2 zakat. Nah ini nih sama aja resikonya kayak mudik tadi. Tibang pengen dapet duit 20ribu rupiah ribuan orang rela ngantri panas terik ujan badai dan yang gue ga seneng mereka bawa anak2nya yang masih kecil. Iyah sih, gue tau kemiskinan di Indonesia emang udah membutakan mata orang2 buat jadi nekad begini. Berhubung gue belom punya penghasilan sendiri, jadi yah gue cuman bisa ngeliatin kondisi ini aja. Tapi gue janji kalo udh sukses nanti (amin) gue bakal lebih memanusiawikan kemiskinan. Setidaknya dari lingkungan terdekat aja. I’ll promise! Gue ga mau kemiskinan di Indonesia dijadiin ajang orang untuk malah nunjukkin kekuasaan sama kekuatan dari orang2 yang manfaatin rakyat yang miskin ini. Kalo mau bagi2 zakat mah yah bagi2 aja, Ga harus nunggu lebaran kan. Emang kalo bukan lebaran mau bagi2 zakat, dosa? Ih, jadi emosi gue. Dan kalo dari yang gue liat, pihak yang ngebagiin zakat seperti bagi2 sembako sama duit itu mereka terkesan ingin menunjukkan kebaikan mereka, bukan karena ketulusan mereka. Bagiin zakat yah jangan sampe ngerugiin orang lain juga dong. Mentang2 miskin trus mereka gitu yang disuru ngantri, desek-desekan? Ajaibnya lagi, orang yang ngebagiin juga kok yah ngebiarin kondisi kayak gini. Mereka dengan enaknya bilang, ‘abisnya pada ga bisa tertib sih?’, WTH!!

Untuk dijadiin memori penting aja, pas lebaran istana negara ngebuka open house tapi akibatnya 1 nyawa seorang bapak yang buta, melayang. Kata seorang pakar sosiolog, rakyat berbondong-bondong maksa ikut open house bukan karena ingin bersilahturahmi atau berbincang sama bapak presiden tercinta kita kitu, melainkan lebih termotivasi sama paket yang dibagiin dari istana. Tuhkan satu lagi potret kemiskinan yang sebenarnya (kalo menurut pendapat gue) jadi dibuat-buat sama orang yang berkuasa. Kenapa (misalnya) bukan bapak presiden aja yang ngedatengin suatu wilayah yang banyak rakyat miskinnya trus ngasih sesuatu yang sangat berguna selain ‘duit kaget’ ke mereka? Misalnya kasih sembako mungkin tapi langsung kerumah-rumah, untuk ngindarin desakan orang yang makan korban itu, ga usah dengan iming2 open house segala. Berlaku juga untuk pihak2 lain yang ngebagiin zakat dengan cara ekstrem yang membahayakan itu. Sekarang gini, dari yang gue liat dalam hal kenegaraan setiap departemen kementrian, dewan perwakilan dan partai politik, atau mungkin yah komunitas tertentu diluar lemabag pemerintah, terus aja ngadain acara buka puasa bersama. Dan pasti kalo ga di hotel, ditempat-tempat lain yang nyewanya lumayan mahal, makanannya pasti dipilih yang enak-enak. Coba itu dibiayain darimana kalo bukan uang pajak yang rakyat bayar masuk ke kas negara? Atau ga misalnya diluar dari lembaga pemerintah deh, komunitas lain seperti pegawai swasta, anak kuliahan, pelaku bisnis, mereka juga ga mungkin ga pernah ngadain buka bersama. Gue percaya pasti budget makan perorang bisa lebih dari 20rb. Nah tapi nyatanya, giliran buat zakat paling ngasiin juga berapa sih dibandingin sekali mereka ngadain acara buka bersama? Udah ngasihnya ga seberapa, nyusahin lagi. shit! Lebaran yang diajarin dikeluarga gue, merupakan suatu moment penting untuk berbagi kebahagiaan dan jalinan silahturahmi bukan hanya sesama agama atau sesama status kedudukan aja. Kalo kalian mampu dan berlebih, jangan pelit lah untuk ngasih apa yang kalian punya ke orang yang sangat membutuhkan, katanya cuma setahun sekali, nah yah jangan pelit2 trus nyusahin juga dong.

Dah ah, esmosi gue. haha. bye. :)